
SUMUR IMAN
Renungan ini mengajak kita kembali menimba air di sumur iman, yaitu Yesus sendiri yang adalah air kehidupan.
RENUNGAN
Br. Gerardus Weruin, MTB
3/8/20262 min read


Sumur Iman
Saudari, Saudara yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus
Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Tidak minum air, kita akan kehausan-dehidrasi, sehingga dokter menganjurkan banyak minum air. Demikian juga hewan-ternak dan tanaman membuthkan air. Pada musim panas-kemarau kita mencari air, karena haus, bersih-bersih dan menyiram tanaman. Air merupakan kebutuhan vital segala makhluk hidup. Tanpa air semuanya akan mati.
Keluaran 17: 3-7 menceritakan bahwa bangsa Israel di padang gurun kehausan dan bersungut-sungut kepada Allah. Bagi mereka, lebih baik tinggal di Mesir biar menjadi budak, tetapi masih bisa makan dan minum daripada ikut Musa menjadi orang bebas, tetapi kehausan. Mereka bertengkar dan mencobai Tuhan dengan berkata, “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” Namun Allah tetap memberi mereka air, ketika Musa memukul gunung batu keluarlah air dan mereka meminumnya. Ini menunjukkan bahwa Allah selalu menyediakan sumber air kehidupan bagi umat-Nya. Rasul Paulus menegaskan bahwa harapan kita tidak mengecewakan, karena kasih karunia Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus (Rm 5:5).
Injil Yohanes 4: 5-42 menceritakan perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria di Sumur Yakub. Sumur itu adalah sumber air bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. Sumur dalam kisah ini mempunyai simbol yang lebih dalam, yaitu tempat manusia mencari-menimba makna hidup dan dasar iman.
Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria menunjukkan bahwa Yesus sendiri adalah sumber air hidup itu. Perempuan itu datang ke sumur Yakub bukan sekadar menimba air minum, tetapi membawa beban hidup dan membuka hati kepada Yesus, sehingga ia mengalami hidup iman yang baru.
Ada tiga hal penting yang dapat kita renungkan. Pertama, Yesus memulai berdialog dengan perempuan Samaria. Yesus berkata, “Berilah Aku minum.” Permintaan sederhana ini membuka percakapan-Nya yang mendalam dengan perempuan Samaria. Tuhan selalu mengambil inisiatif untuk mendekati kita, bahkan ketika kita merasa jauh atau tidak layak-berdosa. Iman sering dimulai dari dialog sederhana dengan Tuhan. Apakah kita juga sering berdialog dengan Yesus?
Kedua, Yesus menawarkan “air hidup” kepada perempuan Samaria. Yesus berkata bahwa siapa yang minum air dari sumur Yakob akan haus lagi, tetapi siapa yang minum air yang AKU berikan tidak akan haus selama-lamanya. Air hidup itu adalah rahmat Allah yang memuaskan dahaga terdalam kita: dahaga akan kasih, pengampunan, dan kebenaran.
Ketiga, Perjumpaan dengan Yesus mengubah hidup. Perempuan Samaria yang awalnya datang sendirian untuk mengambil air, akhirnya menjadi pewarta. Ia meninggalkan tempayannya dan pergi ke kota untuk bersaksi tentang Yesus. Iman yang sejati selalu mendorong kita untuk berbagi kabar baik kepada orang lain.
Minggu Prapaskah III ini mengajak kita kembali ke “Sumur Iman.” Di tengah kesibukan dan kehausan hidup rohani, kita diajak datang kepada Yesus, sumber air hidup. Dari Dia kita menemukan harapan, kekuatan, dan hidup yang baru. Pertanyaannya bagi kita: Apakah kita masih mau datang ke sumur yang sama setiap hari kepada Yesus untuk menimba air hidup bagi iman kita? Mari kita belajar dari perempuan Samaria. Semoga kasih karunia yang telah dianugerahkan kepada kita dapat dibagikan dan berbelarasa dengan sesama. Pertobatan di masa Prapaskah ini menjadi panggilan misi, mewartakan dan melakukan kebaikan, serta mengajak sesama datang menjumpai Yesus sumur iman kita. Semoga, ya semoga Tuhan memberkati… Pace e Bene.
Kontak Jejakku ...
WA 081352245577-
Email brgerard6368@gmail.com