SALIB YESUS DAN PERUBAHAN HIDUP KITA

Renungan ini mengajak kita memaknai salib Yesus dalam hidup kita sehari-hari. Karena tidak semua salib kehidupan disebut salib Yesus. Salib Yesus mengedepankan keadilan, kebenaran dan kebaikan bersama segenap ciptaan.

RENUNGAN

Br. Gerardus Weruin, MTB

3/31/20263 min read

  Salib Yesus dan Perubahan Hidup Kita

Bapa, Ibu, Sdr, Sdri anak-anak yang dikasihi Yesus Kristus Tuhan kita

     Peristiwa Jumat Agung ini, kita mengenang Yesus menanggung derita, sengsara yang luar biasa di salib demi keselamatan umat manusia. Melalui salib, kita diingatkan tentang pengorbanan terbesar yang pernah ada, yang membawa keselamatan bagi setiap orang yang percaya. Cicero ahli pidato Romawi pernah berkata: “Kata salib haruslah benar-benar dijauhkan bukan saja dari tubuh warga negara Roma, melainkan juga dari pikirannya, telinganya, dan matanya.” Karena baginya salib merupakan hukuman yang paling kejam dan memuakkan. Hukuman Salib sangat merendahkan martabat manusia. Akan tetapi, Yesus mau menerimanya, membiarkan diriNya mengalami begitu kejam penderitaan karena kesombongan manusia yang merasa diri berkuasa dan benar. Dengan cara apalagi, Yesus mau menyakinkan kita, sehingga kita menyadari besar-NYA Kasih Allah kepada kita?

   Dalam Yesaya 52:13-53:12, Nabi Yesaya mengungkapkan nubuat tentang penderitaan Mesias yang akan datang. Yesus, sebagai hamba yang menderita, "dipukul karena pemberontakan kita, dihancurkan karena kesalahan kita" (Yesaya 53:5). Semua ini terjadi demi keselamatan kita. Salib bukan soal penderitaan, melainkan lambang KASIH yang sempurna, di mana Yesus rela menyerahkan hidup-Nya untuk menebus dosa umat manusia.

     Di dalam Ibrani 4:14-16, kita diajak untuk menghampiri tahta kasih karunia dengan penuh keyakinan. Yesus mengerti penderitaan kita karena telah mengalami penderitaan sendiri, memberi kita akses langsung kepada Allah untuk menerima kasih dan pertolongan-Nya. Dalam Ibrani 5:7-9, kita melihat bahwa Yesus belajar taat melalui penderitaan, dan melalui salib, Dia menjadi sumber keselamatan yang kekal bagi kita.

    Salib Yesus mengajarkan kita untuk hidup dengan kerendahan hati, kesediaan untuk berkorban, dan solidaritas dengan sesama. Sebagai pengikut Yesus, kita dipanggil untuk tidak hanya mengenang penderitaan-Nya, tetapi juga untuk menghidupi makna penderitaan itu dalam kehidupan kita sehari-hari dengan memikul salib kita masing-masing dan mengikuti DIA.

    Salib mengundang kita untuk menanggalkan egoisme diri dan kemegahan duniawi. Seperti Yesus "rela menyerahkan nyawa-Nya" (Yohanes 10:18), kita dipanggil untuk rela mengorbankan diri demi kebaikan, keadilan, dan kebenaran demi sesama. Bukan hanya pengorbanan dalam arti fisik semata, melainkan lebih kepada pengorbanan hati: melepaskan keinginan-kecenderungan pribadi demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan orang lain.

  Yesus menunjukkan bahwa pengorbanan sejati datang dari kerendahan hati. Dia yang adalah Raja semesta, memilih untuk datang ke dunia sebagai hamba, bahkan rela mati di salib. Dalam Yohanes 18:1-19:42, kita menyaksikan Yesus menghadapi pengkhianatan, tuduhan palsu, dan akhirnya dihukum mati dengan cara yang paling hina. Tetapi di balik semua itu, Yesus menunjukkan KASIH yang tak bertepi-terhingga kepada kita.

    Mengikuti jejak Yesus berarti kita harus mampu menanggalkan kebanggaan pribadi dan melayani sesama dengan tulus. Pengorbanan bukan hanya soal memberi sesuatu yang besar, tetapi juga memberi apa yang kita miliki dengan hati yang penuh kasih. Kita dipanggil untuk memperhatikan mereka yang menderita, berbagi beban, dan menunjukkan kasih tanpa pamrih. Melihat salib, kita diingatkan bahwa pengorbanan dan kerendahan hati adalah nilai yang harus diterapkan dalam hidup kita. Dalam mengikuti Yesus, kita harus siap untuk menghadapi tantangan hidup dengan hati yang penuh pengampunan dan belas kasihan. Salib bukan hanya sebuah simbol penderitaan, tetapi juga kemenangan atas dosa dan kematian, sebuah undangan untuk hidup baru di dalam Kristus.

   Marilah kita memaknai salib Yesus dengan cara yang lebih dalam. Salib tidak hanya sebagai kenangan akan pengorbanan-Nya, tetapi sebagai panggilan untuk hidup lebih menyerupai-Nya. Kita dipanggil untuk hidup rendah hati, rela berkorban, dan penuh solidaritas dengan sesama, seperti yang telah Yesus tunjukkan di salib. Dengan demikian, kita dapat menjadi pribadi yang lebih berbelas kasih dan membawa kasih Tuhan ke dalam dunia yang penuh penderitaan ini. Tidak semua salib yang kita alami dalam hidup ini adalah salib Yesus. Kadang-kadang kita membuat “salib-salib” sendiri lalu mengatasnamakan itu salib Yesus. Ciri salib Yesus selalu memperjuangan kebenaran, keadilan, dan kebaikan untuk banyak orang-sesama. Maka, apa yang dapat kita berikan untuk orang lain sebagai bagian dari salib kita hari ini? Tuhan, ajarlah kami untuk memahami salib-Mu lebih dalam, agar kami dapat mengikuti jejak-Mu dalam hidup kami. Jadikan kami pribadi yang lebih rela berkurban, rendah hati, dan penuh kasih kepada sesama. Semoga ya semoga, Tuhan memberkati - Pace e Bene. Salve (Selamat memaknai Tri hari Suci -Jumat Agung).