PERJALANAN BATIN

Renungan ini mengajak kita tidak larut dalam kekecewaan tapi bangkit melihat Tuhan hadir dalam setiap langkah hidup kita. Dan menyadarkan kita bahwa Tuhan hadir dengan caraNya bukan seperti yang diinginkan kita.

RENUNGAN

Br. Gerardus Weruin, MTB

4/19/20262 min read

PERJALANAN BATIN

Saudari – Saudara yang dikasihi Yesus Kristus Tuhan kita

Setiap kita pernah mengalami kekecewaan. Kita merasa kecewa karena harapan, mimpi-mimpi, dan usaha tidak terpenuhi. Lalu kita putus asa dan tidak percaya lagi. Kita tidak mau mencoba-berusaha lagi, semangat kita padam. Perasaan demikian itu membuat kita mandek dan berbalik arah. Dan semua terasa gelap dan hidup penuh gundah gulana.

Minggu Paskah III ini, kita mendengar pengalaman dua murid “pulang kampung ke Emaus.” Sebuah pengalaman perjalanan batin yang penuh kecewa, sedih, dan gundah karena hidup tidak berjalan sesuai dengan harapan. Injil Lukas 24:13–35 menceritakan dua murid berjalan menjauh dari Yerusalem, menjauh dari harapannya yang hancur bersama wafatnya Yesus.

Kita pun sering demikian. Kita mempunyai cita-cita, mimpi, rencana, bahkan doa-doa yang sudah kita susun rapi. Namun kenyataannya jauh dari semua itu, entah kegagalan, relasi yang retak, atau pergumulan pribadi yang tidak sejalan. Di titik itu, hati kita menjadi “lamban untuk percaya.” Yesus menegur kita: “Betapa bodohnya kamu dan betapa lambannya hatimu untuk percaya….” Yesus bukan sekadar menegur keras, melainkan mengundang kita untuk melihat hidup dengan terang Kitab Suci. Lamban hati berarti kita melihat peristiwa hanya dari pengalaman kecewa, luka, gundah bukan dari rencana Allah yang lebih besar.

Mengapa kita mudah kecewa, gundah dan putus asa? Karena kita sering membangun harapan pada versi kita sendiri tentang Tuhan. Kita ingin Tuhan bekerja sesuai dengan skenario kita. Ketika tidak terjadi, kita merasa Tuhan tidak hadir. Padahal justru di saat itulah Dia berjalan bersama kita dan kita tidak menyadariNya. Dalam kisah Emaus, tanda Tuhan hadir sangat sederhana. Tuhan hadir sebagai teman seperjalanan. Dia hadir ketika kita membuka Kitab Suci membaca dan merenungkannya, sehingga memberi terang dan arah hidup kita. Hati kita “berkobar-kobar” saat mendengar sabdaNya dalam pemecahan roti (Ekaristi). Artinya, Tuhan hadir dalam hal-hal biasa: percakapan, firman, perjamuan, bahkan dalam keheningan hati. Tuhan tidak selalu hadir secara spektakuler, justru sering tersembunyi dalam keseharian. Karena tersembunyi, kita sering kali tidak melihat, merasa hampa-dangkal dan lamban bereaksi.

Rasul Petrus menegaskan bahwa Yesus yang disalibkan itu telah bangkit dan dimuliakan (Kis 2:14–33). Yesus harus mengorbankan diriNya karena kasih Allah tidak berhenti pada penderitaan manusia, tetapi masuk ke dalamnya dan menebusnya. Salib bukan akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan. Hidup kita tidak berhenti pada Jumat Agung, tetapi bangkit pada Minggu Paskah. Dengan darah-Nya, kita dipulihkan bukan hanya masalah hidup semata, melainkan dari keterpisahan (menjauh) dengan Allah. Paskah bukan sekadar perayaan rutin tiap tahun, tetapi cara kita memandang salib hidup dan bangkit. Perjalanan ke Emaus bukan tentang pergi menjauh dari Yerusalem, melainkan tentang perjalanan batin dipulangkan kembali: dari kecewa menjadi percaya, dari sedih menjadi harapan, dari hati yang dingin menjadi berkobar-kobar. Apakah perjalanan hidupku saat ini masih menjauh… atau sudah mulai mengenali bahwa Tuhan sedang berjalan di sampingku?

Bila perjalanan batin kita terasa dangkal, hampa, desolasi, penuh luka dan kecewa karena dunia tidak adil dalam menghadirkan Tuhan maka mari kita bernyanyi ubi caritas et amor Deus ibi est (di mana ada cinta dan kasih di situ Tuhan ada hadir). Bila hati kita gundah gulana, mari kita bernyanyi Love Changes Everything yang dipopulerkan Michael Ball. Cinta mengubah segala-galanya-cinta bukan sekadar perasaan romantis, melainkan kekuatan yang mengubah cara kita melihat hidup, mengambil keputusan, bahkan memahami diri kita sendiri. Cinta bisa mengangkat sekaligus melukai, tetapi tetap membuat hidup lebih “hidup.” Itulah kebangkitan, sehingga hati kita berkobar-kobar menjadi saksi kebaikan, kebenaran, dan kedamaian. Semoga, ya semoga Tuhan memberkati Pace e Bene, Shalom.