
PERCAYA BAHWA IA TELAH BANGKIT
Renungan ini mengajak kita lebih percaya walaupun tidak melihat Yesus bangkit. kebangkitan Yesus menjadikan kita hidup secara baru dalam berpikir yang positif, berkata yang sopan dan ramah, serta bertindak nyata.
RENUNGAN
Br. Gerardus Weruin, MTB
4/1/20263 min read


Percaya bahwa Yesus Telah Bangkit
Selamat Paskah! "Damai Sejahtera bagi kamu" itulah salam dari Yesus ketika menampakkan diri kepada para muridNya.
Bapa, ibu, sdr, sdri, anak-anak yang dikasihi Yesus Kristus Tuhan kita
Pagi itu, Maria Magdalena datang ke kubur saat hari masih gelap. Ia mendapati batu sudah terguling dan kubur kosong. Dengan cemas ia berlari memberi tahu Petrus dan Yohanes. Mereka pun datang, melihat kain kafan tergeletak dan kain peluh terlipat rapi, tetapi Yesus tidak ada dalam kubur. Anehnya, dari tanda-tanda yang sederhana itu, mereka mulai percaya bahwa Tuhan telah bangkit.
Inilah misteri iman: mereka tidak melihat Yesus secara langsung, tetapi mereka percaya. Kebangkitan tidak dibuktikan dengan kehadiran fisik, melainkan dengan tanda-tanda yang mengundang iman. Sering kali kita seperti Maria Magdalena: mencari Tuhan di “kubur-kubur” kehidupan dalam kegagalan-kesalahan, luka batin, dosa, atau keputusasaan. Kita berharap menemukan Tuhan dalam bentuk yang kita kenal, tetapi justru yang kita temukan adalah “kekosongan-kubur kosong.” Namun justru di sanalah Tuhan bekerja. Kubur yang kosong menjadi tanda bahwa hidup tidak berhenti pada kematian, bahwa Allah selalu membuka kemungkinan baru. Dalam dunia modern dan digital saat ini, kita dibanjiri informasi, berita, dan sensasi. Banyak hal tampak nyata di layar, tetapi sering kali dangkal dan kosong makna. Kita mudah percaya pada berita viral, tetapi sulit percaya pada kabar kebangkitan. Kita lebih cepat menyebarkan ketakutan, hoaks, kebencian, kekerasan, atau pesimisme daripada harapan.
Kebangkitan Yesus menantang cara kita hidup hari ini: apakah kita menjadi pembawa kabar hidup atau justru penyebar “kematian” melalui kata-kata, komentar, dan tindakan kita? Percaya pada kebangkitan berarti berani melihat tanda-tanda kehidupan di tengah dunia yang tampak gelap: kebaikan kecil, pengampunan, solidaritas, dan harapan yang tidak padam. Seperti para murid yang melihat lalu percaya, kita pun dipanggil untuk percaya meski tidak melihat secara langsung. Iman Paskah bukan sekadar keyakinan, tetapi sikap hidup: bangkit dari dosa, keluar dari “kubur” kebiasaan lama, dan menjadi saksi bahwa kasih lebih kuat dari kematian.
Petrus bersaksi bahwa Yesus yang wafat itu telah dibangkitkan oleh Allah, dan ia sendiri adalah saksi dari kebangkitan itu. Kesaksian ini bukan sekadar cerita, tetapi pengalaman iman yang mengubah hidup. Karena pewartaan itu, banyak orang tersentuh dan datang untuk dibaptis. Artinya, kebangkitan yang awalnya hanya “tanda” kubur kosong dan kain kafan telah berkembang menjadi kabar keselamatan yang menggerakkan orang untuk berubah hidup. Para murid awalnya hanya melihat dan percaya, tetapi kemudian mereka bersaksi, dan kesaksian itu melahirkan iman baru dalam diri orang lain.
Relevansinya bagi kita di zaman modern-digital sangat kuat. Hari ini, “pewartaan” tidak lagi hanya di mimbar atau pertemuan fisik, tetapi juga melalui media sosial, pesan singkat, dan cara kita berinteraksi di dunia digital. Setiap kata, komentar, dan unggahan kita bisa menjadi “kesaksian” apakah itu tentang harapan atau justru keputusasaan? Kalau Petrus hari ini hidup di zaman digital, mungkin ia tidak hanya berkhotbah di rumah Kornelius, tetapi juga “bersaksi” melalui ruang-ruang publik digital. Dan orang-orang yang “datang untuk dibaptis” bisa kita pahami sebagai mereka yang tersentuh, yang mulai percaya, yang berubah cara hidupnya karena melihat kesaksian iman yang nyata.
Maka pertanyaannya bagi kita: Apakah aku sungguh percaya bahwa Yesus telah bangkit? Apakah hidup kita, baik di dunia nyata maupun digital membuat orang lain semakin percaya bahwa Kristus sungguh bangkit? Percaya pada kebangkitan tidak berhenti pada keyakinan pribadi, tetapi harus menjadi kesaksian yang menghidupkan orang lain. Seperti Petrus, kita dipanggil bukan hanya untuk percaya, melainkan untuk membuat orang lain berani percaya. Dengan demikian, Paskah bukan hanya tentang kubur kosong, tetapi tentang hati yang penuh iman, sehingga mampu menarik orang lain untuk “datang dan mengalami Tuhan,” bahkan sampai pada pembaruan hidup seperti dalam baptisan.
Kita percaya bahwa Yesus telah bangkit dan kitapun ikut bangkit bersama-Nya. Kebangkitan tidak hanya peristiwa yang kita rayakan, tetapi cara hidup yang kita jalani. Tanda bahwa kita sungguh “bangkit” orang lain bisa melihat perubahan nyata dalam diri kita: lebih sabar, lebih mengasihi, lebih jujur, dan lebih dekat dengan Tuhan. Bangkit berarti berubah dan perubahan itu terlihat dalam cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak setiap hari. Mari kita buang ragi yang lama dan kenakan ragi baru mencari hal yang di atas yang membawa kehidupan bukan kematian (jika belum bisa berbuat baik, minimal tidak berbuat yang jahat). Semoga, ya semoga. Tuhan memberkati Pace e Bene. Selamat Paskah. Kristus telah bangkit. Alleluia.
Kontak Jejakku ...
WA 081352245577-
Email brgerard6368@gmail.com