MENJAGA KOMITMEN DIRI

Renungan ini mengajak kita tetap komitmen pada jalan mengikuti Yesus bukan berubah-ubah. Mendengar Suara Tuhan-hati agar tidak tersesat dan berubah arah jalan, tetapi setia pada pilihan-keputusan mengikuti Yesus an mau belajar dariNya.

RENUNGAN

Br. Gerardus Weruin, MTB

3/29/20262 min read

             Menjaga Komitmen Diri

Saudari Saudara yang dikasihi Yesus Kristus Tuhan kita

    Minggu Palma membawa kita pada suasana yang penuh kontras. Dalam Injil, orang banyak berseru, “Hosana Putra Daud!”, namun kemudian berubah menjadi, “Salibkan Dia!” Inilah wajah paradoks manusia: mudah mengagungkan, tetapi juga cepat mengkhianati. Hati yang sama bisa memuji, sekaligus melukai. Orang-orang mulanya bersahabat, mengakui sebagai saudara, tetapi seketika itu juga berbalik menjadi musuh yang sulit diampuni. Dengan mulut ia memuji, namun hatinya penuh rencana jahat. Paradoks ini bukan hal baru, tetapi menjadi baru ketika kita tetap berpegang pada komitmen diri. Kita melihat kesengsaraan Yesus sebagai batu loncatan keselamatan.

     Dalam Yesaya 50:4-7, Nabi Yesaya menggambarkan sosok hamba yang setia, yang tetap teguh meski menghadapi penderitaan. Ia tidak memberontak, tidak mundur, karena percaya pada pertolongan Tuhan. Hamba yang dimaksudkan nabi, yaitu Yesus Kristus sebagai Mesias yang akan datang. Sementara dalam Filipi 2:6-11, Yesus menunjukkan jalan kerendahan hati. Ia yang adalah Tuhan justru mengosongkan diri, taat sampai wafat di salib. Dan dalam Matius 27:11-54, kita melihat puncak dari ketidaksetiaan manusia sekaligus kesetiaan Allah—Yesus tetap setia meski manusia berubah-ubah.

    Mengapa kita begitu mudah jatuh dalam penderitaan dan ketidakkonsistenan? Karena hati-pikiran kita rapuh dan mudah dipengaruhi. Dalam zaman modern yang dikuasai digital dan algoritma, kita semakin digiring oleh arus: opini publik, tren, dan emosi sesaat. Kita bisa dengan mudah “menghosanakan” sesuatu hari ini, lalu “menyalibkannya” esok hari—baik dalam relasi, iman, maupun keputusan-pilihan hidup.

     Sengsara dan penderitaan sering lahir dari ketidakteguhan hati. Kita kehilangan arah, tidak setia pada nilai-nilai kebaikan, dan membiarkan diri dikendalikan oleh dari suara luar, bukan suara hati dan kehendak Tuhan. Menerima uang tiga puluh keping perak untuk membayar kejahatan, memeluk dan mencium demi pengkhianatan, menyangkal tiga kali merupakan tindakan konkret mendukung niat jahat yang menggiring pada penderitaan. Kita tahu dan sadar akan hal itu, tetapi tetap membiarkan suara-suara dari luar itu menguasai hati kita. Padahal Yesus tetap rendah hati, mengasihi dan rela menerima sengsara, menderita sampai wafat di kayu salib agar kita selamat. Sengsara dan penderitaan dalam hidup merupakan kesalahan diri kita sendiri, pilihan kita karena kita tidak mendengarkan suara hati-Tuhan.

       Paradoks ini mengajak kita kembali pada komitmen batin yang mendalam. Belajar dari Yesus, kita dipanggil untuk setia, bukan hanya dalam saat mudah, menyenangkan, aman, mapan, tetapi juga dalam sengasara, penderitaan. Komitmen iman harus berakar, bukan sekadar reaksi sesaat. Dalam dunia yang bising, kita perlu hening; dalam dunia yang cepat berubah, kita perlu keteguhan.

     Minggu Palma mengajak kita bertanya: apakah iman kita hanya “Hosana sesaat”, atau kesetiaan yang bertahan sampai salib? Kesetiaan itu menjadikan kita teguh dalam komitmen. Berkomitmen berarti mendengarkan suara Tuhan. Kita ini berharga di mata Tuhan bukan karena uang melainkan Dia mengasihi kita dan membayar dengan darahNya. Kita juga telah berjanji (ketika baptis) maka setialah pada janji itu. Kita diajakNya, mari ikuti AKU. Kita mengikuti DIA dengan memikul salib (sengsara dan menderita) kita yang tak sebanding dengan DIA. Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKU karena Aku lemah lembut, rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan (Mat 11:28-30). Mari kita menjaga komitmen diri dalam mengikut Yesus-sekali Yesus tetap Yesus! Semoga, ya semoga Tuhan memberkati Pace e Bene.