KELUAR DARI KUBURMU
Renungan ini mengajak kita keluar dari kubur kita masing-masing dan percaya bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup. Hanya melalui Yesuslah ada kebangkitan dan hidup kekal.
RENUNGAN
Br. Gerardus Weruin, MTB
3/23/20263 min read


Keluar dari "Kuburmu”
Saudara-Saudari yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus
Bacaan Minggu Prapaskah V menceritakan tentang kubur baik dalam Yehezekiel maupun dalam Injil Yohanes. Kubur berarti lubang tanah tempat menyimpan atau memakamkan jenazah. Kubur zaman dahulu cukup ditimbun tanah atau batu. Akan tetapi, di zaman modern kubur sudah disemen dan dipasang juga keramik atau marmer. Bahkan ada yang dibuatkan atap layaknya rumah kecil. Padahal di dalamnya hanya berisikan tulang belulang. Kubur juga menggambarkan kehidupan kita manusia yang bagian luarnya didandan kesalehan dan kebaikan, tetapi di dalamnya penuh kebusukan, kekotoran karena pencitraan diri (self-image), manipulasi diri (self gaslighting), dan validasi diri.
Dalam Injil Yohanes 11:1-45, mengisahkan bahwa Lazarus saudara Marta dan Maria sudah mati dikuburkan dan dibangkitkan Yesus. Secara manusiawi, harapan Marta dan Maria telah tertutup rapat seperti batu kubur. Namun, Yesus justru menyatakan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hidup. Yesus merasa iba-masygul dan membangkitkan Lazarus. Peristiwa in bukan sekadar mukjizat, melainkan tanda-simbol bahwa kuasa Allah mampu menembus kematian, keputusasaan, dan kegelapan hidup manusia. Selain itu, Yesus mau menegaskan Ia akan mengalami kematian dan bangkit. Peristiwa kematian merupakan pengalaman semua manusia, tanpa itu tidak ada kehidupan.
Nabi Yehezkiel (Yeh 37:12-14) berbicara tentang tulang-tulang menjadi kering, pengharapan sudah lenyap dan hilang, tetapi Allah menghidupkan kembali. Allah membuka kubur dan memberi roh kehidupan. Sementara dalam Roma 8:8-11, rasul Paulus menegaskan bahwa Roh Allah yang membangkitkan Kristus juga tinggal dalam diri kita. Artinya, kebangkitan bukan hanya peristiwa masa lalu, melainkan kenyataan iman yang terus bekerja dalam hidup kita.
Yesus bertanya yang sangat personal kepada Marta: “Percayakah engkau?” Pertanyaan ini bukan sekadar meminta jawaban lisan, tetapi mengguncang hati; mengundang iman yang hidup di tengah situasi yang tampak mustahil. Pertanyaan ini mengundang kita untuk percaya bahwa: Tuhan sanggup menghidupkan kembali “kematian” dalam diri kita: segala harapan yang hilang, relasi yang rusak, dan iman yang kering. Tuhan hadir bahkan saat kita merasa terlambat—seperti Lazarus yang sudah empat hari dalam kubur.
Secara simbolik, kebangkitan Lazarus mengajak kita melihat: sering kali kita hidup seperti “orang mati”—terikat oleh dosa, ketakutan, luka batin, atau kebiasaan lama. Batu kubur itu bisa berupa ego, keputusasaan, atau ketidakmauan untuk berubah. Yesus berkata kepada kita: “Keluarlah!” Maka di masa Prapaskah ini, pertanyaan itu menjadi sangat pribadi:Percayakah bahwa Tuhan mampu mengubah hidupku?
Jika percaya, kita dipanggil untuk melangkah keluar dari “kubur” masing-masing, membuka diri pada Roh yang menghidupkan, dan menjalani hidup baru bersama Kristus. Kubur tidak selalu berupa liang tanah, bukan hanya tempat orang mati, melainkan simbol keadaan manusia yang terkurung, tertutup, dan kehilangan hidup. Kubur zaman modern berupa: hati yang tertutup karena luka dan kekecewaan; hidup yang terikat dosa dan kebiasaan buruk; keputusasaan, stres, dan kehilangan arah hidup; relasi yang mati tidak ada pengampunan, tidak ada kasih; dan rutinitas tanpa makna hidup. Secara lahiriah kita berjalan, bekerja, bahkan tersenyum, tetapi yang ada di dalam hati-kita bisa saja “terkubur.”
Prapasakah V mengajak kita segera keluar dari kubur. Firman Allah “AKU membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu dari dalamnya dan memberikan RohKu ke dalammu” (Yeh 37: 12-14). Tuhan tidak membiarkan kita tinggal dalam kematian batin. Ia datang untuk membongkar kubur kita. Saat membangkitkan Lazarus, Yesus berkata, “Angkat batu itu!” Artinya, ada bagian Tuhan, tetapi ada juga bagian kita. Perlu kerja sama antara kita dan Tuhan: Kita jujur melihat diri apa yang mematikan hidupku? Dosa? Ego? Luka lama?; Membiarkan batu dibuka - berani membuka diri, datang kepada Tuhan dalam doa, pengakuan dosa, dan keheningan; Mendengar panggilan Yesus: “Keluarlah!” Ini ajakan untuk bertindak: berubah, meninggalkan kebiasaan lama, keluar dari kenyamanan-kemapanan, memulai langkah baru; Melepaskan kain kafan kita perlu melepaskan “ikatan lama”: pengampunan, rekonsiliasi, hidup baru dalam Roh. Paulus menegaskan Roh Allah memberi hidup baru, hidup kita diarahkan oleh Roh, bukan oleh kedagingan.
Pertanyaan Yesus tetap menggema: “Percayakah engkau?” Percaya berarti berani keluar dari kubur kita, meskipun belum sepenuhnya bebas. Kita terus melangkah, meski masih ada ketakutan. Karena Tuhan tidak hanya ingin kita “hidup nanti”, tetapi hidup sekarang- saat ini dengan sungguh-sungguh hidup, bebas, dan penuh harapan. Mari kita menaruh kepercayaan dan harapan kepada Yesus karena Ia adalah jalan, kebenaran dan hidup dan hanya melalui Dia sajalah kita sampai pada Bapa. Semoga, ya semoga Tuhan memberkati, Pace e Bene...Salve.
Kontak Jejakku ...
WA 081352245577-
Email brgerard6368@gmail.com