
Kehadiran Penghibur
Renungan ini mengajak kita hadir secara penuh-utuh di antara sesama dan alam ciptaan. Inilah tantangan zaman ini kita hadir, ada tetapi terjebak oleh multitasking. Maka setiap relasi perjumpaan kita mesti hadir secara utuh karena mencerminkan Aku di dalam kamu dan kamu di dalam Aku.
RENUNGAN
Br. Gerardus Weruin, MTB
5/10/20263 min read


Kehadiran Penghibur
Saudari Saudara yang dikasihi Yesus Kristus Tuhan kita
Minggu Paskah VI ini kita diantar pada suasana perpisahan yang dilukisan sebagai yatim piatu. Yesus akan pergi dari dunia kepada Bapa, tetapi menjanjikan akan hadir Penghibur-Roh Kudus. Roh Kebenaran bukan saja datang menghibur melainkan hadir dan menemani agar dalam kesibukan harian kita tetap mengandalkan Tuhan. Dalam persatuan dengan Tuhan – Aku di dalam BapaKu dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu, memampukan kita tetap berpegang pada perintahNya dan melakukannya.
Kesibukan zaman digital ini, ada sesuatu yang penting perlahan menghilang dari kita, yakni kehadiran yang utuh. Kita hadir secara fisik di dalam ruangan yang sama, ruang pertemuan, di meja makan, tetapi pikiran melayang ke WA, FB, Tiktok yang belum dicek-balas. Kita duduk di bangku gereja, tetapi jari masih menggulir layar ponsel. Relasi-perjumpaan yang kita bangun dengan Allah, sesama, dan alam ciptaan menjadi kering dan dangkal terfragmentasi di antara tab-tab browser yang tak pernah ditutup. Layar ponsel menyala sepanjang hari. Notifikasi datang silih berganti. Kita mengalami koneksi internet lebih stabil daripada koneksi batin kita dengan Tuhan.
Bacaan Minggu ini justru berbicara tentang kehadiran Penghibur. Petrus dalam suratnya yang pertama (3:15-18) menegaskan bahwa "Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Siap sedialah untuk mempertanggungjawabkan pengharapan yang ada padamu." Petrus menekankan bahwa kita mesti menyediakan tempat khusus dalam hati bagi Yesus (Aku di dalam kamu), sehingga mampu menghadirkan kasih Kristus. Petrus menasihati kita, lakukan dengan lemah lembut dan hormat-ini cermin kasih Yesus. Dalam menghadirkan dan mewartakan Yesus selamanya tidak disambut baik, justru kita ditolak-menderita karena mengusik kemapanan orang. Nasihat Petrus ini sangat mujarab, "Lebih baik kita menderita karena berbuat baik, jika itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat." Kita hadir membawa dan mewartakan kasih Yesus bukan menambah beban atau masalah bagi yang lain. Jika kita belum mampu berbuat baik minimal tidak berbuat jahat. Karena perbuatan baik itu berasal dari Kristus yang ada dalam hati kita.
Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dan memanggil kita untuk hadir bagi sesama. Kisah Para Rasul 8: 5-8, 14-17 menceritakan bahwa Filipus tidak sekadar memberitakan Kristus dari kejauhan. Ia turun ke Samaria, hadir di tengah orang-orang yang terpinggirkan. Ia menyentuh yang sakit, membebaskan yang terikat. Dan ketika Petrus dan Yohanes datang, mereka menumpangkan tangan sebuah gestur fisik, personal, penuh perhatian. Roh Kudus turun melalui perjumpaan yang nyata, bukan melalui pesan singkat.
Dalam Injil Yohanes 14:15-21 Yesus menjanjikan Roh Kebenaran akan hadir dan diam di dalam hati kita. "Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kepadamu." Di saat kita merasa sendirian, banyak masalah, lelah, putus asa, dan bingung di tengah keramaian digital, Yesus menegaskan Aku hadir, Aku tinggal, Aku ada di hatimu masing-masing, tetapi kamu tidak mendengarkan-Ku. Jika kita tidak mendengarkan Yesus bagaimana mungkin mau mengasihi sesama?
Firman Minggu ini mengajak kita untuk kembali kepada kehadiran yang utuh. Kita hadir bagi Allah, matikan notifikasi ponselmu. Duduk dalam keheningan dan mendengarkan-Nya. Kita membiarkan Roh Kudus berbicara tanpa harus bersaing dengan algoritma. Kita hadir bagi sesama, seperti Filipus yang turun ke Samaria, berani keluar dari zona nyaman digital. Kita hadir untuk yang sakit, menghibur yang kesepian dan berbeban berat. Kita mendengarkan tanpa multitasking. Kita menyentuh kehidupan nyata, bukan hanya menekan tombol "like." Kita hadir bagi alam ciptaan, letakkan gawai-ponselmu. Perhatikan langit pagi, suara burung, hembusan angin. Tuhan berbicara melalui karya tangan-Nya yang sederhana dan dekat dengan kita.
Digital-HP bukan musuh, tetapi juga bukan tuan. Kita dipanggil untuk menggunakannya dengan bijak, bukan dikuasai olehnya. Kristus yang bangkit tidak meninggalkan kita sendirian menghadapi arus digital yang deras. Roh-Nya tinggal di dalam kita dan menjadi jangkar di tengah lautan informasi tanpa henti. Mari kita mencoba-belajar satu hal sederhana: hadirlah sepenuhnya untuk satu orang, satu momen, satu doa—tanpa layar, tanpa distraksi (kecohan) digital. Di sanalah Kristus yang berjanji "Aku datang kepadamu" akan kita temukan. "Barangsiapa memiliki perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku" (Yoh 14:21). Kita dipanggil untuk menghadirkan Penghibur bagi ‘dunia’ (orang yang belum menerima dan percaya pada Yesus) dan alam semesta. Semoga, ya semoga. Tuhan memberkati Pace e Bene -Salve.
Kontak Jejakku ...
WA 081352245577-
Email brgerard6368@gmail.com