Ia Naik & Kita Diutus

Renungan ini mengajak kita melihat kenaikan Yesus sebagai penobatan kosmik. Lebih dari itu, Ia mengutus Roh Kudus membantu kita dalam perutusan untuk bersaksi, menjadi duta damai, adil, baik dan kasih serta selalu berharap dengan tanggung jawab akan kedatangan Yesus yang kedua kali.

RENUNGAN

Br. Gerardus Weruin, MTB

5/14/20262 min read

  Ia Naik & Kita Diutus

      Saudari Saudara yang dikasihi Yesus Kristus Tuhan kita

     Empat puluh hari setelah kebangkitan, Yesus naik ke surga di depan mata para murid (Kis. 1:9). Yesus terangkat ke surga berpisah dengan para murid-Nya. Setiap perpisahan kita merasa sedih, kehilangan, bahkan kebingungan. Seorang anak yang ditinggal orang tuanya merantau, sahabat yang berpisah karena pekerjaan, atau keluarga yang berjauhan karena keadaan hidup, semuanya meninggalkan ruang kosong dalam hati. Ini bukan "kepergian biasa", tetapi ini penobatan secara kosmis. KenaikanNya bukan perpisahan, melainkan penggenapan. Paulus dalam Efesus 1:20–22 menegaskan bahwa Yesus ditinggikan jauh di atas segala pemerintah, penguasa, dan kekuatan, dan ditetapkan sebagai Kepala atas segala sesuatu bagi jemaat-Nya. Yesus tidak "pergi jauh", Ia naik untuk memerintah, mengutus Roh, dan menjadi Pengantara kita. Justru dari singgasana itulah Ia hadir lebih penuh melalui Roh Kudus di dalam setiap orang yang percaya kepada-Nya.

     Peristiwa kenaikan ini penting bagi kita karena keselamatan disempurnakan. Kenaikan Yesus menggenapi seluruh karya penyelamatan dari salib, kebangkitan, dan kini pemuliaan di surga. Manusia bukan hanya diampuni, tetapi diterima sepenuhnya di hadapan Allah melalui Kristus yang kini menjadi Pengantara kita (bdk. Ibr. 7:25). Sebelum naik, Yesus berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi" (Mat. 28:18). Kuasa itulah melandasi Amanat Agung bukan kuasa manusia, melainkan otoritas Sang Raja yang bangkit. Yesus menjamin penyertaan dan masa depan. Dua malaikat berkata: "Yesus... akan datang kembali dengan cara yang sama" (Kis. 1:11). Kenaikan membuka pengharapan eskatologis bahwa sejarah manusia tidak berakhir dalam keputusasaan, melainkan menuju kepada kedatangan-Nya yang kedua.

     Dalam praksis hidup sehari-hari, kenaikan Yesus ke surga menjadi sangat penting bagi kita dalam perutusan. Hidup kita tidak hanya terus-menerus menatap ke langit, tetapi harus melangkah dan berbuat sesuatu yang menjadi tujuan hidup. Ada bahaya yang perlu kita dihindari, yakni (1) hanya menatap ke langit seperti para murid dan terpesona pada peristiwa rohani, tetapi lupa akan tugasnya di bumi; (2) sibuk bekerja, tetapi melupakan bahwa kuasa dan penyertaan Kristus-lah yang menjadi sumber kekuatan, bukan kemampuan kita sendiri. Maka, kita hidup dalam kesadaran akan Kristus yang berkuasa. Efesus 1:17 mendorong kita untuk memohon "roh hikmat dan wahyu." Setiap hari merupakan undangan untuk hidup dengan mata iman yang terbuka dan melihat realitas dari sudut pandang Kristus yang bertakhta, bukan lagi sekadar logika duniawi.

     Kita berusaha menjawab Amanat Agung dalam konteks hidup sehari-hari, "Pergilah jadikan semua bangsa muridKu dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" (Mat. 28:19-20). Kita diutus di rumah-komunitas, tempat kerja, bermedia sosial dan dipanggil untuk bersaksi: menjadi duta damai, kasih, kebenaran, kebaikan, dan keadilan (Kis. 1:8). Dalam bersaksi, kita mengandalkan janji penyertaan-Nya. "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat. 28:20). Di tengah kecemasan, kesepian, atau tantangan zaman ini, janji ini adalah fondasi yang tidak goyah. Kita menantikan kedatangan-Nya dengan hidup yang bertanggung jawab. Malaikat menegur para murid yang hanya menatap langit (Kis. 1:11). Kita tetap berharap akan kedatangan Kristus bukan alasan pasif, tetapi justru mendorong agar kita tetap setia, adil, baik, dan berbuah sembari menantikan-Nya. Inti praksis zaman ini bahwa hidup sebagai murid yang sadar bahwa Sang Raja sedang berkuasa, bahwa kita diutus dengan otoritas-Nya, dan Ia menyertai kita sampai akhir zaman. Kenaikan Yesus bukan akhir dari kehadiran-Nya, melainkan awal dari kehadiran-Nya yang lebih luas: melalui Roh Kudus, melalui Gereja, melalui setiap murid yang pergi dan bersaksi. Ia naik ke surga supaya kita diutus karena Ia berkuasa, sehingga kita menjadi berani. Kiranya Roh Kudus memberi hikmat dan keberanian kepada kita untuk menghidupinya. Semoga, ya semoga... Tuhan memberkati! Pace e Bene - Salve.