
Dipanggil dan Diutus
Hidup ini sebuah anugerah, panggilan dan perutusan. Yesus tergerak hati oleh belas kasihan melihat kita yang lelah dan telantar. Kita yang telah mendapat belas kasihan Yesus dipanggil dan diutus juga mewartakan Injil-Kerajaan Allah sudah dekat.
RENUNGAN
Br. Gerardus Weruin, MTB
6/14/20262 min read


Dipanggil dan Diutus
Saudari - Saudara yang dikasihi Yesus Kristus,
Hidup ini jika tidak dipertanyakan ia tidak layak untuk dihidupi. Mengapa saya hidup? Mengapa ada alam semesta, sesama? Mengapa sekarang ada demo harga barang-barang pada naik? Mengapa dan terus mengapa? Jika kita mundur melihat ke belakang, ternyata semua yang diciptakan Allah ini karena KASIH. Allah begitu mengasihi manusia, sehingga Ia mengutus AnakNya ke dunia untuk menyelamatkan kita. Karena kasih itu, kita dianugerahi kehidupan, dipanggil dan diutus demi menghidupi hidup itu. Menghidupi hidup hanya bisa terjadi bila kita memiliki KASIH. Hidup yang tidak memiliki kasih, dunia terasa mati.
Bacaan hari Minggu Biasa XI ini mengingatkan kita akan kasih Allah membimbing umat Israel keluar dari Mesir. Ketika umat Israel dalam perjalanan menuju tanah terjanji Allah mengingatkan lagi bahwa jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firmanKu dan berpegang pada perjanjianKu, kamu menjadi harta kesayanganKu, kerajaan imam, dan bangsa yang kudus (Keluaran 19:2-6a). Kasih Allah ini juga berlaku untuk kita yang telah percaya kepadaNya. Seperti umat Israel berjalan melintasi padang gurun bergumul dengan tawaran janji Tuhan, demikianpun kita juga bergumul dengan persoalan tawaran-janji Tuhan dan dunia. Berhadapan dengan janji-janji dunia dapat menjebak kita dalam kekosongan kesadaran dan tanpa rasa syukur atas kasih Allah yang menyelamatkan kita. Janji baptis menawarkan jalan kesucian terasa menjadi beban; janji yang dibarui setiap Paskah terasa hampa, sepertinya ada kekosongan eksistensial Allah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara Injil (Mat 9: 36) mengundang kita belajar dari Yesus. Melihat orang banyak, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan karena mereka lelah dan telantar seperti domba yang tak bergembala. Maka Yesus memanggil kedua belas rasul dan mengutus mereka kepada domba-domba yang lelah dan telantar itu. Pesan Yesus jelas, yakni jangan menyimpang ke jalan bangsa lain-pergilah dan beritakan Kerajaan Allah sudah dekat kepada umat Israel – domba yang hilang, sembuhkan yang sakit, bangkitkan yang mati, tahirkan yang kusta, dan usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, berikan pula dengan cuma-cuma. Yesus juga tergerak hati oleh belas kasihan melihat kita lelah akan beban berat, masalah dan tantangan zaman, tetap tinggal dalam dosa kenyamanan-kemapanan, selalu ingat akan luka batin, serta telantar karena sibuk dengan hal-hal dunia dan kurang perhatian pada hidup rohani.
Paulus menegaskan tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar-mungkin untuk yang baik. Sekarang, kita dibenarkan oleh DarahNya, diselamatkan, dan diperdamaikan oleh hidupNya (Rm 5:7-10). Mengapa kita tetap bertahan dalam masa lalu dengan segala luka batin, benci, dendam, amarah, dan iri hati? Kita telah dibaptis, dipanggil dan diutusNya mewartakan belas kasihanNya. Kasih Allah itu telah menghidupkan kita dan kita terus menghidupi hidup itu, sehingga penuh makna. Mari kita menghidupi hidup dengan sungguh-sungguh mendengarkan Firman Tuhan dan tetap berpegang pada perjanjianNya, karena kita merupakan copy paste, gambar dan rupa Allah-Imago Dei. Lebih dari, kita telah menerima dengan cuma-cuma, maka berilah pula dengan cuma-cuma. Pergilah mewartakan Injil dengan senyum dan pulang dengan berkat. Semoga, ya semoga...Tuhan memberkati Pace e Bene, Salve (Minggu Biasa XI, 1462026).
Kontak Jejakku ...
WA 081352245577-
Email brgerard6368@gmail.com