DENGARKANLAH DIA

Renungan ini mengajak kita mawas diri menjadi murid Yesus dengan fokus pada identitas murid Yesus, yaitu dikasihi dan berharga di mataNya.

RENUNGAN

Br. Gerardus Weruin, MTB

3/1/20262 min read

Dengarkanlah Dia

Saudari-Saudara yang dikasihi Yesus Kristus Tuhan kita

       Di zaman digital ini, kita dikelilingi begitu banyak suara: notifikasi, opini, berita hoaks, tren, dan pencitraan diri. Kita mudah mendengar banyak hal tersebut, tetapi sulit sungguh-sungguh mendengarkan. Hati kita menjadi bising dan gelap. Dalam kebisingan itu, suara Tuhan sering tenggelam dan tidak terdengar lagi, sehingga mengaburkan identitas kita sebagai pengikut Yesus.

    Pada Minggu Prapaskah II ini, kita diajak naik ke gunung bersama Yesus dalam peristiwa Transfigurasi (Mat 17:1-9). Di atas Gunung Tabor, wajah Yesus berubah rupa, pakaian-Nya berkilau, dan suara dari awan berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Suara ini bukan sekadar ajakan mendengar dengan telinga, tetapi mendengarkan dengan hati—taat, percaya, dan berani mengambil keputusan berdasarkan Sabda-Nya.

        Peristiwa Transfigurasi ini menegaskan identitas Yesus bahwa Ia adalah Anak yang dikasihi Bapa; kehadiran-Nya di antara Musa dan Elia (Musa dengan Hukum Taurat bagi Israel dan Elia nabi besar mewakili semua nabi) Yesus menjadi kepenuhan dari Musa dan Elia, sehingga kita harus mendengarkan Dia. Ketika Petrus menyaksikan itu, mereka merasa bahagia dan mau mendirikan tiga kemah bagi Yesus, Musa, dan Elia.

    Dalam Kejadian 12:1-4a, Abraham dipanggil dan diutus Allah ke suatu negeri yang belum diketahuinya. Ia melepaskan sanak saudara-keluarganya, kampung halamannya, segala harta miliknya dan pergi. Ketaatan ini menjadikan Abraham sebagai bapa segala bangsa, membawa berkat bagi banyak orang dan murid pertama dalam sejarah iman. Abraham mendengarkan panggilan Tuhan dan berangkat tanpa tahu ke mana ia pergi. Mendengarkan Sabda Tuhan, membuat Abraham berani meninggalkan zona nyaman. Demikian pula dalam 2 Timotius 1:8b-10, Paulus menasihati Timotius agar tidak malu bersaksi tentang Tuhan, sebab keselamatan adalah karya rahmat, bukan hasil usaha manusia semata. Sabda yang didengar dan dihayati melahirkan keberanian dan kesetiaan menjadi murid Yesus.

     Proses menjadi murid Yesus selalu dimulai dari mendengarkan. Mendengarkan Yesus berarti membiarkan Sabda-Nya membentuk cara kita memilih, mencintai, dan memikul salib. Sabda Yesus yang kita dengar perlahan membentuk cara berpikir, memurnikan motivasi, dan menuntun pilihan hidup. Murid yang sejati bukan hanya pengagum mukjizat, melainkan pribadi yang membiarkan Sabda menegur, mengubah, dan mentransfigurasi diri kita.

      Hal ini menegaskan identitas kita sebagai murid Yesus. Siapakah aku? Aku bukan apa yang aku pikirkan, kerjakan-perbuat; bukan soal sosok tubuh yang ganteng-cantik, juga bukan gelar, jabatan yang kumilik, melainkan aku dikasihi Bapa, aku berharga di mata-Nya. Karena aku dikasihi dan berharga, aku patut mendengarkan DIA supaya akupun mampu mengasihi seperti Dia. Hanya Dia yang patut didengar dan model hidup kita

      Prapaskah II ini, kita diajak Yesus naik ke “gunung sunyi” dalam doa, puasa-pantang dan amal kasih. Di gunung sunyi ini, kita belajar memilah mana suara yang menyelamatkan dan suara yang menyesatkan. Mendengarkan Yesus berarti menimbang setiap keputusan dengan Sabda-Nya, apakah ini membawa kasih, kebenaran, dan pengorbanan? Ada kecenderungan seperti Petrus tidak mau turun terkesan dengan momen bahagia di gunung Tabor. Kitapun harus berani turun gunung masuk Yerusalem dan menjumpai salib kehidupan. Kita harus berani melepaskan zona nyaman, melepaskan kecenderungan dan masuk dunia yang penuh ketidakadilan, kekerasan, korupsi, manipulasi, sehingga relasi dengan sesama dan alam terputus. Mana pengorbanan dan pelayanan kasihmu sebagai murid Yesus, jangan sampai kita ikut menyalibkan Yesus lagi karena tidak mendengarkan Dia.

       Mari dengan setia kita mendengarkan Dia, Sabda itu akan mentransfigurasi hidup kita. Mari kita belajar dari Abraham berani pergi walaupun tidak tahu apa yang terjadi. Dari ragu-ragu menjadi percaya, dari takut menjadi berani, dari egois menjadi penuh kasih. Setelah mendengarkan Dia, kita turun dari “gunung”, kita membawa terang Kristus ke dunia yang gelap oleh kebisingan dan kebingungan; membawa berkat bagi sesama dan segenap ciptaan. Semoga, ya semoga Tuhan memberkati Pace e Bene Salve.