
“BATU HIDUP”
Renungan ini mengajak kita memaknai metafora batu penjuru dan jalan, kebenaran dan hidup menjadi pusat atau fokus hidup kita. Karenanya ia menjamin hidup kita baik di dunia maupun di surga ada banyak tempat.
RENUNGAN
Br. Gerardus Weruin, MTB
5/3/20262 min read


“BATU HIDUP”
Saudari Saudara yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus
Pada Minggu Paskah V ini, Petrus mewartakan Yesus sebagai batu hidup. Batu yang dibuang oleh tukang bangunan menjadi batu penjuru. Sementara, Yohanes menegaskan di rumah Bapa ada banyak tempat tinggal bagi yang percaya padaNya karena Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Maka jangan gelisah hatimu, tetapi percayalah kepada Allah-Yesus Kristus.
Dalam kaca mata iman kita ada ironi yang tajam: batu yang dibuang justru menjadi batu penjuru. Petrus menggambarkan Kristus sebagai “batu hidup” yang ditolak-dibuang manusia, tetapi dipilih dan dihormati Allah (1Petrus 2:4-9). Di zaman sekarang, metafora batu ini sangat relevan. Orang-orang sering menilai kita berdasarkan popularitas, kekuatan, dan kekayaan-keuntungan yang banyak. Siapa yang lemah, sederhana, miskin atau tidak “menguntungkan” mudah disingkirkan-dibuang. Namun, iman Kristiani berdiri di atas sesuatu yang tampak “ditolak-dibuang”: salib, penderitaan, pengorbanan, dan kerendahan hati.
Bagi kita murid Yesus masa kini, “batu” berarti fondasi hidup. Pertanyaannya sederhana, tetapi cukup menohok: hidup kita dibangun di atas apa? Karier? Uang? Pengakuan atau Kekuasaan? Semua itu bisa runtuh. Kita diundang Yesus untuk membangun di atas batu hidup: nilai kasih, kebenaran, keadilan, dan kesetiaan. Menjadi “batu hidup” berarti ikut ambil bagian dalam karya Allah: menjadi kokoh, tetapi juga menjadi sandaran bagi sesama. Iman bukan sekadar doa, tetapi sikap hidup yang nyata - jujur di tengah godaan, setia saat sulit, tetap mengasihi ketika disakiti, berbuat baik dan adil walaupun tidak dihargai-diperhitungan.
Injil Yohanes (14: 1-12) melukiskan Yesus akan berpisah dengan murid-murid-Nya. Ada kegelisahan, kebingungan, bahkan ketidakmengertian. Namun Yesus tidak meninggalkan kita dalam kegelisahan dan ketakutan. Dia berkata, “Jangan gelisah hatimu.” Ini bukan kalimat penghiburan kosong, melainkan janji yang berakar pada siapa Dia yang adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Metafora “di rumah Bapa ada banyak tempat tinggal” bukan sekadar gambaran surga sebagai lokasi fisik. Itu merupakan simbol relasi. Allah menyediakan ruang bagi kita yang percaya. Hidup bersama Allah bukan eksklusif, melainkan inklusif. Ada tempat untuk setiap luka, setiap pencarian, setiap pertobatan dan yang setia dalam penderitaan demi-Nya.
Ketika Filipus berkata, “Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami,” ia sebenarnya mewakili kita semua. Kita menginginkan bukti yang jelas, pengalaman yang nyata. Jawaban Yesus tegas: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Artinya, wajah Allah tidak perlu dicari jauh-jauh, yakni lihatlah orang miskin di sekitar kita. Berhadapan dengan orang miskin respons Yesus jelas, memberitakan kabar baik, pembebasan bagi tawanan, penglihatan bagi orang buta dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk 4: 18-19). Inilah misi perutusan Yesus tentu kita juga diutus demikian, peduli dan berbelas kasih, bela rasa dan solidaritas kepada kaum miskin.
Metafora di atas memberi makna kepada kita bahwa iman adalah perjalanan mengenal, bukan sekadar tahu. Kita “tahu” tentang Yesus, tetapi belum sungguh-sungguh mengenal-Nya dalam pengalaman hidup. Bila kita sudah tahu dilanjutkan dengan membangun relasi personal-perjumpaan dan mendengarkan DIA. Iman harus menjadi nyata dalam tindakan konkret kita. Jika Yesus adalah jalan, maka kita dipanggil berjalan seperti Dia: membawa damai, bukan konflik; memberi harapan, bukan putus asa; membangun, bukan meruntuhkan, apalagi menyingkir dan menjauh. Harapan Kristiani bukan ilusi yang kosong. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, janji “ada tempat bagimu” adalah dasar ketenangan batin. Kita tidak berjalan sendirian, dan hidup kita tidak berakhir dalam desolasi-kekosongan.
Mari Saudari Saudara menjadi murid Kristus berarti berani menjadikan Dia sebagai batu hidup-penjuru sebagai pusat hidup kita. Dari-Nya lahirlah kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan sejati. Bahagia bukan karena hidup tanpa masalah, melainkan karena hidup memiliki arah, makna, dan tujuan yang pasti dalam Tuhan. Semoga, ya semoga Tuhan memberkati. Salve...Pace e Bene
Kontak Jejakku ...
WA 081352245577-
Email brgerard6368@gmail.com