BALE NAGI-PULANG KAMPUNG

TULISAN INI SEBAGAI INSPIRASI DAN MEMBERI PERSPEKTIF DALAM BIDANG KEHIDUPAN LAMOHOLOT-KEUSKUPAN LARANTUKA SEMOGA SESUAI DENGAN SITUASI SAAT INI. SEMOGA USKUP BARU MEMBAWA PERUBAHAN LEBIH BAIK DAN BENAR.

RENUNGAN

Br. Gerardus Weruin, MTB

2/19/20265 min read

Bale Nagi – Pulang Kampung

     Bale Nagi-merupakan salah satu lagu pop yang sangat digemari anak nagi khususnya yang merantau. Dia tidak sekadar hiburan atau melepaskan lipur lara anak nagi di daerah rantau. Mulanya hanya lagu pop, tetapi ketika Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD mengulangnya beberapa kali dalam kotbah pentabisan uskup Mgr. Yohanes Hans Monteiro memberi inspirasi dan perspektif dalam memahami situasi dan kondisi keuskupan Larantuka-suku Lamaholot. Pengulang itu tentu mempunyai pesan rohani, sekaligus dimensi hidup lain yang secara implisit jika direfleksi dan dimaknai. Bale Nagi mengingatkan kita akan pesan Yesus kepada para muridNya setelah bangkit dari kubur, … kesebelas muridNya disuruh Yesus pulang ke Galilea (Mat 28:16; 28:10, 28:7 dan 26 :32).

   Bale Nagi dalam dialek lokal—masyarakat Larantuka yang berarti pulang kampung. Ungkapan ini tidak sekadar menunjuk gerak fisik kembali ke tanah asal, bahkan bila harus ditempuh dengan “bero-sampan. Bero alat transportasi laut menunjukkan perjalanan sederhana, bersahaja, penuh keterbatasan. Bero adalah simbol kembali ke akar hidup, identitas, dan relasi komunitas. Makna ini selaras dengan moto episkopal Mgr. Yohanes Hans Montero: satu tubuh, satu roh, satu pengharapan. Pulang kampung menjadi gambaran pastoral tentang kembali membangun kesatuan hidup umat.

    Dalam konteks masyarakat Flores Timur-Lamaholot, Bale Nagi mencerminkan realitas migrasi ekonomi. Banyak warga merantau ke kota, ke luar pulau, bahkan luar negeri demi nafkah. Pulang kampung bukan sekadar nostalgia, melainkan untuk memulihkan relasi keluarga dan solidaritas sosial, berbagi hasil kerja dengan komunitas asal, dan menjaga jaringan dukungan ekonomi tradisional. Secara simbolik, khotbah itu menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh memutus akar komunal. Suku Lamaholot sangat terkenal “ola teka, here tenu” (ini mata pencahariannya kerja kebun-peladang dan iris tuak untuk minum) yang merupakan warisan leluhur dalam mempertahankan ekonomi untuk hidup. Kesejahteraan sejati bukan individualistik, melainkan kembali memberi hidup pada komunitas asal.

    Dalam budaya Lamaholot–Larantuka, kampung adalah ruang identitas: tempat leluhur dikenang, adat budaya diwariskan dan nilai kebersamaan-persatuan dijaga. Bale Nagi berarti kembali kepada: nilai kebersamaan (kaka ari, tale kebote) yang gotong royong, rasa hormat kepada tetua-leluhur, dan kesadaran asal-usul (tena mao-keroko puken). Dengan menyebut perjalanan sederhana menggunakan bero-sampan, khotbah itu menekankan kerendahan hati: siapa pun yang pulang kampung tidak datang sebagai penguasa, melainkan sebagai bagian dari tubuh budaya yang sama-anak Lamaholot.

    Simbol pulang kampung juga dapat dibaca sebagai pesan politik pastoral: raja tuan itu seorang pelayan. Kepemimpinan harus berakar pada pelayanan kepada rakyat kecil (akar rumput), pengambil keputusan tidak boleh terasing dari komunitas akar rumput, dan otoritas harus kembali mendengarkan suara kampung. Dalam konteks tahbisan uskup, ini berarti gembala tidak berdiri di atas umat, tetapi kembali ke tengah mereka — sebagai anggota tubuh yang sama dan berjalan bersama-sama.

     Bale Nagi mengandung pesan pendidikan sosial: ilmu yang diperoleh di luar kampung seharusnya memajukan lewo tana, memperkaya komunitas akar rumput. Pendidikan bukan memobilitas untuk meninggalkan akar warisan leluhur, tetapi sarana pelayanan demi keselamatan umat. Ini menanamkan paradigma pendidikan sebagai pengabdian, bukan sekadar prestise pribadi. Orang Lamaholot sangat mengedepankan peduli lewo tana ehi gere lewo, sehingga pendidikan pastoral harus memperhatikan itu.

   Secara simbolik, pulang kampung juga berarti: kembali merawat tubuh komunitas, memastikan kesejahteraan dasar terpenuhi, dan memperhatikan mereka yang rentan (korban bencana dan pembangunan yang tidak adil). Dalam analogi tubuh sesuai dengan moto episkopal Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes: kesehatan satu anggota memengaruhi seluruh tubuh. Pulang berarti tidak membiarkan anggota lain terluka sendirian. Bukan hanya tubuh yang terluka melainkan bumi (tana eka juga sudah rusak), sehingga perlu dipulihkan kembali.

      Di sinilah kedalaman makna Bale Nagi paling kuat: pulang adalah gambaran spiritual kembali kepada Allah, Gereja adalah kampung iman, Uskup adalah saudara seperjalanan, bukan orang asing. Makna ini paralel dengan spiritualitas Kitab Suci: manusia adalah peziarah, iman adalah perjalanan pulang ke rumah Bapa, dan kesatuan Gereja adalah rumah bersama (dalam suku Lamaholot pai pupu taan tou, pui taa eha). Dengan demikian, moto satu tubuh, roh, dan pengharapan menemukan konkretisasinya: tubuh komunitas umat-Lamaholot, roh - kesatuan batin iman sebagai anak-anak Allah dan pengharapan - arah perjalanan pulang kepada Tuhan, Roh Kudus menjadi kompasnya.

       Dalam terang khotbah itu, Bale Nagi bukan hanya ungkapan budaya, melainkan metafora teologis dan sosial yang kuat. Ia mengajarkan bahwa pulang kampung berarti: kembali ke identitas, kembali ke solidaritas-peduli dengan sesama terlebih yang “kurang”, kembali ke pelayanan (gelekat lewo), dan kembali ke kesatuan iman. Maka tahbisan uskup tidak dilihat sebagai kenaikan status, tetapi sebagai tindakan “pulang” masuk lebih dalam ke kehidupan umat, sehingga Gereja sungguh menjadi satu tubuh yang hidup dalam satu roh dan diarahkan oleh satu pengharapan hanya kepada Yesus Kristus yang adalah jalan, kebenaran dan hidup kita.

    Dan Bale Nagi itu sudah dijawab oleh “Sinyo” uskup sendiri dalam sambutan, dia mengungkapkan bahwa menjadi uskup adalah suatu panggilan dan rahmat Allah melalui Gereja-Nya. Tabisan episkopal ini bukan pertama-tama suatu kehormatan pribadi melainkan sebuah pelayanan bagi Gereja. Di katedral ini saya menerima kepenuhan Rahmat (dari Baptis, Tobat, Ekaristi, Krisma, Imamat menjadi imam dan uskup). Sebagai anak nagi Katedral ini menyimpan sejarah panggilannya. Tabisan uskup ini menyadarkannya bahwa seorang nabi tidak dihormati di daerah asalnya sendiri. Di tengah sambutan meriah dan hangat oleh umat dan lintas agama, ada postingan WA bunyinya Mahkota duri di balik sorak sorai, hari ini disambut, esok siap disalibkan.” Imamat tanpa salib berarti kekuasaan; imamat dengan salib adalah penyerahan diri dan pengorbanan. Di salib dan melalui saliblah panggilan dimurnikan.

      Menghadapi kecemasan dan tantangan, Ketua KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC menegaskan bahwa ancaman itu bukan datang dari luar melainkan dalam tubuh Gereja sendiri yang memecah belah oleh oknum-oknum tertentu. Gereja tidak akan hancur karena serangan dari luar. Justru yang harus kita cermati adalah serangan dari dalam diri kita sendiri. Iblis itu mau menghacurkan dan mengobrak-abrik kesatuan dalam Gereja. Gereja Indonesia itu Bhineka Tunggal Ika dan menjadi Kompas dalam bidang moral, spiritual dan sosial. Gereja itu sehati dan sejiwa dari dulu sampai sekarang. Walaupun kadang-kadang ada malam gelap, ada badai, tetapi Gereja selalu satu hati dan hanya komunitas Gereja inilah kita memperoleh dan membawa damai Sejahtera dari Yesus Kristus.

    Dalam situasi yang sedang terluka (pengungsi erupsi gunung Lewotobi dan Ileape Lewotolok), Gereja dipanggil hadir untuk mendengarkan dan menemani dengan penuh kasih. Kita percaya iman Gereja yang suci-kudus, tetapi sekaligus juga yang rapuh dan berdosa. Kekudusan Gereja bersumber dari Kristus dalam Tubuh dan Roh Kudus yang menghidupkan Gereja. Namun, pada saat yang sama Gereja juga memikul luka-luka sejarah, kelemahan manusia, dan kegagalan para pelayanannya. Justru dalam ketegangan inilah kita dipanggil untuk tetap berharap karena Allah setia membantu dan menyempurnakan bejana tanah liat yang rapuh ini. Iman menyakinkan kita bahwa Kristus tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Sebagai uskup, saya dipanggil untuk mencintai Gereja bukan karena Gereja selalu sempurna melainkan karena Gereja adalah tubuh Kristus yang terus dimurnikan oleh rahmat Allah. Saya mau berjalan bersama umat bukan di atas umat, mendengarkan bukan hanya berbicara, menyembuhkan bukan menghakimi dan membangun persatuan bukan perpecahan. Semoga bersama uskup baru, Mgr. Yohanes Hans Monteiro kita berjalan bersama menata dan merajut keuskupan Larantuka-Lamoholot ke depan sesuai dengan semangat Yesus dan para Rasul. Mari no Bale Nagi… torang bangun Lamaholot tercinta biar pake bero. Bero sudah teruji tidak tenggelam oleh badai dan terombang ambing oleh hujan-angin karena lampu di pante Uste tidak pernah padam menunggu Sinyo Bale Nagi. (*** Br. Gerardus Weruin, MTB)