Bahasa Pewartaan

Tulisan ini mengajak kita merenungkan bagaimana menggunakan bahasa secara efektif, baik dan benar dalam pewartaan kabar baik-Injil di zaman modern

BAHASA DAN SASTRA

Br. Gerardus Weruin, MTB

1/31/20261 min read

Bahasa Dalam Pewartaan

Dalam pewartaan kabar baik-gembira (Injil), kita membutuhkan bahasa. Bahasa dalam karya misi mempunyai peran penting, bahasa menjadi kunci menuju hati. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa membuka pintu menuju pemahaman, kepercayaan dan kedekatan. Bahasa membangun jembatan antara pewarta dan apa yang diwartakan.

Menurut Mgr. Paulus Budi Kleden dalam konteks kebahasaan itu, pentingnya interkulturalitas. Dunia bergerak di tengah keberagaman. Bahasa menjadi sarana untuk “merawat relasi yang tulus.” Bahasa menumbuhkan rasa hormat, menghindarkan dominasi dan mengajak untuk mendengarkan.

Lanjutnya, misi bukan soal metode melainkan soal sikap. Bahasa menjadi cermin dari sikap itu. Bahasa menunjukkan apakah kita sungguh hadir? Bahasa mengungkap apakah kita sungguh peduli?

Di tengah dunia yang penuh ketegangan, Bahasa yang jernih dan penuh empati menjadi “jalan damai.” Bahasa yang tulus membuka ruang dialog. Bahasa yang rendah hati membangun harapan.

Kata mendiang Paus Fransiskus, “The real power is not in money and weapons, but in dialogue, in the encounter between different cultures and religions. Artinya, kekuatan sejati bukan terletak pada uang dan senjata melainkan pada perjumpaan antara budaya dan agama yang berbeda.

Pernyataan Paus itu memperkuat gagasan bahwa Bahasa yang jernih dan penuh empati adalan jalan damai. Dialog yang tulus membuka ruang pengertian-pemahaman dan perjumpaan yang rendah hati membangun harapan di tengah dunia yang penuh ketegangan. Dan di tengah dunia yang penuh ketegangan, Bahasa hadir sebagai sarana rekonsiliasi dan harapan.

Di titik ini secara universal Gereja dipanggil untuk berbicara dengan hati. Gereja dipanggil untuk mendengarkan dengan kasih dan hadir dengan bahasa yang menyembuhkan. Maka sebagai pewarta bukan saja menguasai apa yang diwartakan melainkan bagaimana menggunakan bahasa secara baik dan benar, sehingga mendatangkan keteduhan hati dan mengajak orang untuk berpikir dan bersikap. (*** Br. Gerardus Weruin, MTB)