Animasi-Edukasi di SMP Setya Budi Nanga Pinoh

Kegiatan JPIC

EKOLOGI

Br. Gerardus Weruin, MTB

1/17/20263 min read

Nanga Pinoh Sabtu, 27 Juli 2025 dalam suasana kekeluargaan yang hangat dan penuh persaudaraan menyelimuti halaman SMP Setya Budi guru-guru dan anak-anak menyambut kedatangan tim JPIC (Justice, Peace, and Integrity of Creation) Kalimantan. Kehadiran tim JPIC Fransiskan-Fransiskanes Kalimantan di SMP Setya Budi Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi untuk menganimasi dan mengedukasi anak-anak, guru-guru, dan karyawan akan pentingnya manjaga lingkungan hidup dan menghormati martabat manusia. Dalam kunjungan ini tim JPIC Kalimantan diminta untuk berbagi pengalaman dalam sepak terjangnya memperjuangkan lingkungan hidup dan martabat manusia. Adapun temanya, yakni Peran Sekolah Dalam Memperjuangkan Kesehatan, Keamanan, dan Lingkungan Hidup di lingkungan SMP Satya Budi Nanga Pinoh. Kegiatan sharing ini menjadi ruang refleksi, animasi dan edukasi yang menyentuh tiga poin penting, yakni kesehatan reproduksi, pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), dan ekologi yang berkeadilan.

Tim JPIC Kalimantan disambut dengan tarian, pemotongan bambu oleh Ketua JPIC, Pastor Pionius Hendi OFMCap sebagai simbol penerimaan dan penghormatan terhadap tamu secara adat Dayak, sebuah tradisi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal. Setelah acara adat di depan pintu, tim JPIC diperkenankan memasuki ruang aula sekolah. Selanjutnya kegiatan ini dibuka dengan doa oleh Sr. Domisia, SMFA, dilanjutkan dengan sambutan oleh ketua panitia bapak Yuvenalis Ahok, Kepala Sekolah Setya Budi, Sr. Therese, SMFA, dan ketua Yayasan Sukma oleh Pastor Sabinus Amir serta ketua JPIC Kalimantan Pastor Pionius Hendi OFMCap sekaligus memperkenalkan tim JPIC Kalimantan.

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kehadiran tim JPIC Kalimantan. “Kami bangga dapat menjadi tempat berbagi pengetahuan dan nilai kehidupan yang penting bagi anak didik dan bapa-ibu guru. Semoga ini menjadi awal dari gerakan bersama membentuk pribadi yang sadar diri, peduli sesama, dan cinta lingkungan,” ujarnya. Kemudian dua siswi membawakan story telling (dalam Bahasa Inggris dan Indonesia) dengan bangga menceritakan apa yang telah mereka lakukan seperti tidak menyiapkan tong sampah, membawa botol minum dan menanam bunga-bunga di sekolahnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan mendengarkan pemaparan dari Sr. Fransiska, SFIC tentang Kesehatan Alat Reproduksi Remaja. Dalam sesi ini, suster menjelaskan fungsi, tanggung jawab, dan nilai moral dalam menjaga tubuh sebagai anugerah Tuhan. Siswa- siswi diajak untuk mengenal dan menghargai tubuhnya secara sehat dan utuh, serta menjauhi pengaruh negatif yang membahayakan perkembangan mereka. Suster juga mengajak mereka agar menjauhi pergaulan bebas dan menjaga kesehatan diri yang bertanggung jawab demi masa depan. Melalui edukasi ini, siswa-siswi diharapkan dapat memahami bagaimana cara merawat organ reproduksi, menjaga kebersihan, mengenali batasan dalam pergaulan bebas. Karena usia ini telah memasuki masa pubertas di mana terjadi perubahan secara fisik, emosional, dan psikologis.

Sesi berikut oleh Pastor Pionius Hendi, OFMCap dan Sr. Eufrasia, KFS memaparkan tetang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Perlindungan Diri. Pastor Pionius menyampaikan data dan realita perdagangan orang yang kian mengkhawatirkan, terutama di daerah-daerah pinggiran dan perbatasan. Pastor mengajak para siswa-guru untuk waspada terhadap modus-modus penipuan, serta pentingnya memperkuat jaringan komunitas dan keluarga sebagai benteng perlindungan. Dalam paparannya, pastor Pionius menjelaskan modus dan ciri-ciri Human Trafficking yang harus diwaspadai karena sering menyasar ke anak-anak dan remaja. Pastor Pionius mengingatkan siswa-siswa agar waspada karena modusnya sangat menggiurkan bujuk rayu lewat medial sosial, tawaran pekerjaan-studi luar negeri hingga ekspliotasi organ tubuh oleh orang terdekat. Semuanya itu karena uang…siapa yang tidak mau uang? Maka siswa maupun guru penting mengenali dan melaporkan indikasi perdagangan orang kepada pihak keamanan dengan bukti-bukti berupa foto, video dan sebagainya. Semantara Sr. Eufrasia menambahkan tentang TPPO dari tinjuan hukum. Suster menekankan pentingnya pemahaman terhadap Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007.

Sesi terakhir, Br. Gerardus Weruin, MTB dan Br. Willem, OFMCap memaparkan tentang Ekologi yang Berkeadilan, Br. Gerardus menekankan pentingnya pertobatan ekologis sebagai bagian dari iman dan tindakan sosial. Bruder mengangkat isu-isu kerusakan alam-lingkugan hidup, Ibu Bumi rumah kita bersama seperti perubahan iklim, krisis air bersih, dan pencemaran-polusi di Kalimantan. Bruder mengajak siswa dan guru-guru lebih bersikap adil terhadap ibu bumi rumah kita dengan membangun relasi yang harmonis dengan alam, dimulai dari aksi kecil: membuang sampah pada tempatnya, menanam pohon, dan mengurangi plastik. Bisakan diri hidup bersih dan hijau serta menanam apa yang dimakan-makan apa yang ditanam karena makanan kita sekarang kurang sehat lagi -tercemar oleh bahan-bahan kimia. Sangat sulit kita mendapatkan makanan yang benar-benar organik-alami, maka Bruder mengajak siswa dan guru SMP Setya Budi kembali ke alam-apa yang disediakan dan dihasilkan oleh alam untuk tubuh kita. Br. Willem menambahkan untuk mendapatkan makanan yang betul-betul organik kita dapat mengusahakan dengan membuat kompos. Sampah-sampah organik kita olah menjadi pupuk organik, sehingga memberi nutrisi dan gizi yang cukup untuk tanaman yang kemudian akan dikonsumsi oleh manusia. Cara-cara sederhana ini menunjukkan kita bersikap adil terhadap ibu bumi rumah kita bersama. Bumi sudah rusak dan sakit, kita jangan menambah beban penderitaannya lagi.

Sharing pengalaman ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan refleksi bersama. Banyak siswa menunjukkan antusiasme dan keberanian bertanya. Beberapa dari mereka bahkan menyampaikan kesan mendalam-sangat kritis dalam bertanya dan semangat untuk menjadi agen perubahan di sekolah dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, JPIC Kalimantan berharap nilai-nilai keadilan sosial, kesadaran ekologis, dan penghargaan terhadap martabat manusia dapat tumbuh sejak usia remaja, sejalan dengan semangat kearifan lokal yang hidup di tanah Kalimantan. Tindakan kita sangat kecil-sederhana peduli terhadap ibu bumi rumah bersama, tetapi berdampak besar bagi kelangsungan hidup generasi mendatang. Kegiatan JPIC Kalimantan di SMP Setya Budi bukan hanya berbagi informasi, tetapi juga membangkitkan semangat dan harapan siswa dan guru. Dalam semangat persaudaraan, iman, dan kearifan lokal, generasi muda Kalimantan dipanggil untuk membangun masa depan yang lebih adil dan lestari. Semoga… (* Br. Gerardus Weruin, MTB).